Osteoporosis Tak Hanya Milik Kaum Wanita, Pria Juga!

Jumat, 19 Oktober 2007
Posted by Masakan

Mungkin sedikit mengejutkan bahwa pada kenyataannya osteoporosis juga bisa menyerang kaum pria. Kita semua tahu bahwa osteoporosis merupakan kasus yang cukup membahayakan fisik pada wanita bahkan dapat menyebabkan kematian. Sekitar 20% yang menderita patah tulang karena osteoporosis akhirnya meninggal dalam kurun waktu setahun.

Tapi kita sepertinya tidak terlalu memperhatikan bahwa osteoporosis juga merupakan ancaman bagi kaum pria. Survei membuktikan bahwa satu dari tiga kasus osteoporosis terjadi pada pria. Dan untuk kasus patah tulang akibat osteoporosis, angka kematian pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.

Penanganan yang harus dilakukan adalah dengan mencegah terjadinya hal tersebut, yaitu dengan menangani kasus osteoporosis lebih dini, baik pada wanita maupun pria. Waktu yang tepat untuk menanganinya adalah sebelum kita mendapatkan cedera patah tulang akibat osteoporosis.

Perlu diingat, osteoporosis merupakan penyebab kerusakan tulang dan kita semua (pria, wanita, tua maupun muda) perlu melakukan pencegahan dan penanganan osteoporosis sedini mungkin.

Untuk melakukan pencegahan, kita harus tahu faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Ada beberapa faktor yang berperan terhadap terjadinya osteoporosis.

Pertama faktor keturunan atau ras, yang berarti kita tidak bisa terlalu banyak melakukan intervensi dengan mengganti gen penyebabnya. Biasanya risiko itu meningkat pada ras kulit putih, seperti Eropa atau Asia.

Yang kedua adalah faktor usia. Semakin tua usia seseorang, maka akan semakin besar kemungkinannya terkena osteoporosis.

Kemudian yang ketiga adalah faktor lingkungan, misalnya:

* Mendapatkan pengobatan jangka panjang (seperti kortikosteroid dan anti kejang)
* Efek dari penyakit lain, seperti hipotiroidisme atau sindroma malabsobsi
* Mendapatkan menopause dini

Dari beberapa faktor tersebut, memang terlihat sulit untuk dihindari. Namun, ada beberapa faktor risiko yang mudah sekali dihindari untuk mengurangi terjadinya osteoporosis, yaitu:

* Hilangkan kebiasaan merokok
* Berolahraga untuk menguatkan otot sekaligus menguatkan tulang (misalnya jalan, jogging, dll.)
* Konsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D (bagi Anda yang telah berusia di atas 50 tahun atau memiliki faktor risiko osteoporosis yang tinggi, sebaiknya mengonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D)
* Jangan terlalu banyak mengonsumsi kafein atau alkohol
* Jangan terlalu kurus. Lebih gemuk seseorang, lebih rendah mendapatkan faktor risiko osteoporosis

Sering Lelah? Mungkin Gejala Penyakit Jantung

Sabtu, 01 September 2007
Posted by Masakan

Jangan anggap sepele jika Anda sering merasakan lelah yang tidak biasa. Bisa jadi itu adalah gejala dari serangan jantung. Penyakit jantung memang memiliki gejala-gejala antara lain kelelahan yang tidak biasa, pola tidur yang terganggu, sulit bernapas dan ketidakmampuan dalam mencerna.

Biasanya gejala tersebut muncul sebulan lebih awal dari serangan jantung sehingga jika segera disadari akan memberikan cukup waktu untuk pencegahan. Gejala klasik seperti sakit di dada sebelum serangan umumnya lebih banyak dialami oleh kaum pria dibandingkan kaum wanita.

Menurut Prof. Jean McSweeney dari University Arkansas dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa sedikitnya sakit di dada menjadi alasan utama mengapa wanita memiliki gejala serangan jantung yang tidak diketahui dibandingkan pria.

Dalam penelitian terbaru tersebut, peneliti di Amerika menanyakan lebih dari 500 wanita penderita penyakit jantung yang berumur 60-an tahun dan dilaporkan hampir semuanya merasakan gejala baru atau berbeda dalam beberapa minggu sebelum serangan jantung. Tujuh dari sepuluh wanita itu merasakan kelelahan yang tidak biasa dan hampir setengahnya menderita gangguan tidur serta kesulitan bernapas.

Oleh karena itu, kaum wanita sebaiknya perlu mengetahui gejala baru yang muncul terkait dengan penyakit jantung untuk segera mencari perawatan medis agar bisa menentukan penyebab dari gejala tersebut, terutama jika mereka diketahui memiliki faktor risiko seperti latar belakang keluarga yang mengidap penyakit jantung.

Sumber : InfoSehat.com